468x60 Ads

ADA APA DENGAN MUSIBAH


Dunia sudah semakin tua, berbagai fenomena alam seperti bencana yang dating silih bergati, cuaca ekstrim, perubahan iklim yang tidak menentu, hujan yang disertai angin, banji8r yang melanda, itu semua   mengindikasikan adnya ketidak seimbangan alam yang sudah akut, ketidak seimbangan alam tidak lain disebabkan oleh perilaku manusia itu sendiri, eksploitas alam yang tidak di imbangi oleh antisipasi dan upaya perbaikan. Penebangan hutan dan pembakaran liar yang membabi buta tidak disertai dengan  pemerajaan hutan kembali, seiring populasi manusia yang semaki berkembang pesat, tumbuh suburnya berbagai industry yang memproduksi berbagai zat-zat karbon yang berbahaya dapat mengancam lapisan ozom.
Betapa besar nafsu dan keserakahan manusia yang ingin menundukkan alam demimgala tuntutan jasmani dan memperkay diri dengan mengenyampingkan pembangunan akhlak, moral, mental dan spiritual manusia.
Seharusnya setiap individu ikut berperan aktif dalam menjaga dan memelihara alam. Bukankah membangun itu lebih baik dari pada merusak? Dan jika kita membangun kebaikan pasti akan membawa keberuntungan. Ketika moral dikesampingkan maka akan ada yang salah dalam upaya pemeliharaan alam ini. Dampaknya adalah terjadinya musibah, seperti banjir, tanah longsor, dehabrasi, kebakaran dan lain sebagainya. Secara ilmiah Al-Quran menegaskan dalam surat Ar Ruum ayat 41, bahwa semua bencana itu terjadi disebabkan karena perubahan manusia sendiri.
“ Telah Nampak kerusakan di di darat dan di laut disebabkan karna perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalalan yang benar)”.
Sebagai umat beragama, tentunya kita tidak melihat fenomena alam hanya dari sisi ilmiahnya saja, melainkan kita juga melihat dari sudut teologisnya, apa maksud dan rencana Allah SWT menimpakan musibah kepada ummatnya? Terjadinya bencana atau musibah, dalam berspektif Islam terbagi menjadi tiga kategori, yakni musibah sebagai ujian, teguran dan sebagai adzab dari Allah SWT.
Pertama : Musibah sebagai ujian, ini tentu ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan taat beribadah. Para Nabi, sahabat, ulama dan para mujahid dalam mendahwakan Islam selalu ada halangan dan rintangan, itu semua merupakan ujian daroi Allah SWT. Semaki tinggi imam seseorang, maka semakin berat juga ujian yang diberikan Allah SWT, firman-Nya dalam Al-Quran surat Al baqarah ayat 155 :
“ Dan  kami pasti akan menguji kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang besar”.
Siapakah orang-orang yang sabar menurut ayat di atas? Ialah orang yang sabar dalam menghadapi ujian. Dalam ayat selanjutnya surah Al Baqarah ayat 156: “ (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpah musibah, mereka mengucapkan : “ Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun ”. Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa’ (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
Kedua : Musibah sebagai teguran atau peringatan, yang diberikan kepada orang yang briman tetapi dial alai yang akhirnya dia melakukan dosa, sehingga Allah SWT memberikan tegura berupa musibah atau bencana agar dia menyadari kesalahannya lalu bertaubat dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
Ketiga : Musibah sebagai adzab, yaitu balasan Dario perbuatan dosa yang telah dilakukan. Musibah ini di timpakan kepada orang-orang ahli maksiat, yang hanya menuruti hawa nafsunya, mereka tidak mempedulikan peringatan dari ayat-ayat Allah SWT, juka nsehat dari orang lain. Akhirnya Allah SWT menimpakan adzab bagi mereka, seperti umat-umat terdahulu, kaum Samud,’Aad, Saba, dan kaum pendurhakalainnya. Diantara ayat-ayat yang di timpakan umat terdahulu adalah :
“ Maka kami kirimkan  kepada mereka topan, belalang, kutu dan darah (air minum mereka berubah menjadi darah) sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. Maka setelah kamihilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya. Kemudian kami menghukum mereka, dengan kami tenggelamkan mereka dilaut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami itu.”(QS. Al A’raaf ayat: 133. 135. 136).
Itulah balasan yang diberikan Allah SWT kepada kaum yang durhaka, padahal peringatan demi peringatan sudah diberikan, tetapi mereka tetap tidak menghiraukannya. Nauzdubillahi min zalik

0 komentar:

Posting Komentar