468x60 Ads

HIKMAH DARI SEBUAH HIKAYAH


Abu Laits As-Samarkandi adalah seorang ahli fiqhi yang terkenal, suatu ketika beliau berkata. “Ayahku pernah berkata, bahwa salah satu pebedaan antara Nabi dan Rasul adalah, Nabi menerimah wahyu melalui mimpi, dan Rasul menerimah wahyu melalui  malaikat Jibril bahkan langsung dari Allah SWT.
Suatu ketika ada seorang Nabi menerimah wahyu, malam itu iya bermimpi mendengar suara yang memerintahkan dirinya: “Besok pagi, engkau keluar dari rumah setelah fajar. Engkau harus lakukan. Pertama apa yang engkau lihat makanlah. Kedua, Engkau sembunyikan. Ketiga, Engkau terimah. Keempat,jangan putuskan harapan. Kelima, Engkau larilah darinya.”
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ka arah Barat, dan yang pertama kali dilihatnya ialah sebuah gunung besar, Nabi itupun kebingungan, dalam hatinya berkata. ”Mustahil gunungh sebesar itu saya makan”. Tetapi karena perintah  Allah akhirnya dia dekati gunung itu, ketika sudah dekat  tiba-tiba gunung itu mengecil dan berubah menjadi roti, dengan sedikit keheranan Nbi itupun mengambil lalu memakannya, roti itupun teradsa lezat dan nikmat bahkan dia belum pernah merasakan nikmait seperti itu, maka iyya pun bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya. Di tengah jalan ia melihat sebuah mangkuk emas, dia teringat akan perintah dalam mimpinya, agar menyembunyikan benda yang di jumpainya. Nabi  itu pun kemudian menggali lubang dan di pendamnya mangkuk emas itu, lalu dia melanjutkan perjalanan, namun baru beberapa langkah tiba-tiba mangkuk emas itu muncul di permukaan tanah, melihat hal itu iyya segera menimbunnya, dan mangkuk emas itu muncul lagi sampai tiga kali, lalu berkata. “ Ya Allah telah melaksanakan perintahMu.”
Kemudian dia melanjutkan perjalanannya tiba-tiba di lihatnya seekoyr burung elang mengecar burung kecil, dan burung kecil itu pun berkata. “ Wahai Nabi Allah, tolong aku”. Mendengar rintihan burung itu, hatinya terasa terenyuh, lalu segera manangkap burung itu dan dio masukkan di dalam bajunya. Burung elang pun menghampiri Nabi dan berkata.”Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan burung kecil itu jatah makankuhari ini, janganlah engkau patahkan harapanku untuk memakan burung kecil itu”. Nabi itu ingat pesan dalam mimpinya jangan putuskan harapan, dia bingung apa yang harus di lakukan. Akhiornya dia menghunus pedangnya lalu mengiris sedikit daging pahanya sendiri dan diberikan kepada elang tersebut. Stelah mendapatkan daging itu, elang pun terbang meninggalkanya, burung kecil yang ada di balik bajunya dilepadskan kembali.
Nabi itu pun melanjutkanperjalananya, beberapa saat berjalan dia menjumpai bamgkai yang amat busuk bnaunya, ingat akan pesan terakhir mimpinya dia lari menjauhi bangkai yang busuk tersebut. Lima peristiwa sudah dia alami sebagai mana pentunjuk yang ada dalam mimpinya, dan akhirnya nabi itu pun kembali kerumahnya dan munajat kepada Allah sseraya berdoa. “ Ya Allah, Hamba telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang engkau perintahkan lewat mimpiku, maka jelaskanlah apa arti semua yang telah hamba laksanakan”.
Malam berikutnya Nabi bermimpi, dalam mimpinya  Allah SWT berfirman.”
Pertama : Yang engkau makan itu adalah amarah. Pada mulanyanampak besar seperti gunung, tetapi pada akhirnya jika brsabar dan dapat menahannya, makah amarah itupun akan menjadi lebih manis dari madu, sebagaiman roti least yang engkau makan.
Kedua : semua amal kebaikan walaupun di sembunyikan, akan tetap tampak sebagaiman mangkuk emas yang engkau timbun selalumuncul keprmukaan tanah.
Ketiga : jikah sudah menerimah amanat, maka janganlah kamu khianati sekecil apapun amanat tersebut, seperti engkau meneriama burung keci yang akan dimakan elanglalu kamu mengambilnya.
Keempat : jika orang meminta bantuankepadamu maka usahakanlah untuk membantunya, walaupun kamu sendiri harus berkorban, seperti yang telah kamu lakukan mengiris sedikit daging pahamu yang kamu berikan kepada elang.
Kelima : bau bangkai yang busuk yang kamu jumpai itu adalah ghibah (membicarakan kejelekan orang lain). Maka pergilah atau menjauhlah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membicarakan aibnya orang lain (ghibah). Karena menceritakan aib orang lain sama dengan memakan bangkai teman sendiri. Sebagaiman  firman Allah SWT yang artinya.
“ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berburuk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari berburuk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggungjinkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan  daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu meras jijik kepadanya. Dan bertkwalah kepada Allah. Sungguhnya Allah Maha penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-hujuraat: 12).
“ Kisah ini hedaknya kita tanamkan dalam diri kita, karean itu semua senantiasa berlaku dalam kehidupankita sehari-hari”. Kata Imam Abu Laits As-Samarqandi. Perkarah yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), pada hal perbuatan tersebut di benci Allah SWT. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw mengingatkan tentang bahaya ghibah, yaitu dapat menghilangkan pahala kita, dalam istilah agama disebut muflis (orang yang rugi) karena pahalanya diberikan kepada orang yang di gungjing.
Walaupun wahyu yang berupa lima perintah Allah SWT itu diberikan kepada Nabi tersebut, akan tetapi lima perintah itu selalu kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita dapat menahan amarah, tidak riya’, menyembunyikan kebaikan, memeliharah amanah, membantu orang yang membutuanhkan, dan menjauhi ghibah, maka InsaAllah kita akan selamat dunia dan akhirat. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan bimbingan-Nya agar kita dapat melakukan kebaikan yang diridhoi-Nya. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar